Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Minggu, 31 Agustus 2014  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Church Leader Spiritual Formation

PDT. DR. Stephen Tong
NRC II Reason for Being
1 Agustus 2000

Injil Lukas 1:74-75
Terjemahan lain dari bagian Alkitab ini adalah:
"Supaya kita terlepas dari tangan musuh ... seumur hidup kita" atau 
"Supaya kita dimerdekakan dari musuh kita dan bisa melayani Dia dengan tidak takut di dalam kesucian dan keadilan, dan menghadap Tuhan selama kita hidup. Seluruh hidup kita, kita melayani Dia tanpa takut, dengan kesucian dan keadilan.

Seumur hidup melayani Tuhan dalam keadilan dan kesucian. Penekanan kita adalah secara khusus pelayanan di dalam hidup yang suci, atau kesucian di dalam pelayanan kepada Tuhan. Dalam ayat-ayat lain, kalimat Tuhan mengatakan, "Engkau harus suci, karena Aku yang memanggil engkau adalah Tuhan yang suci". Apakah sebabnya Tuhan memanggil orang Israel yang sudah berkecukupan keluar dari tanah Mesir? Orang Israel dipanggil keluar dari tanah Mesir ke padang belantara untuk melayani Tuhan. Orang Israel tidak mungkin melayani Tuhan di tanah Mesir, karena di sana mereka melayani firaun, raja di dunia, melayani orang-orang berdosa. Maka Tuhan menyuruh mereka keluar dari tanah firaun, keluar dari kecukupan dan pergi ke padang belantara untuk melayani Tuhan.

Lalu mereka ke luar dipimpin Musa - setelah melalui 10 tulah - setelah keluar, mereka langsung dikejar firaun. Tuhan memanggil, melepaskan dan memerdekakan kita supaya kita bisa melayani Tuhan, berbakti kepada Tuhan, dan menjadi saksi-Nya. Pada bagian ini dikatakan supaya kita bisa melayani Tuhan tanpa rasa takut, bisa melayani Tuhan dengan leluasa dan hidup yang suci bagi Allah. 

Hidup suci merupakan hal yang penting sekali dalam memformasikan kerohanian kita. Saya percaya hidup suci merupakan suatu hal yang paling penting sebagai pondasi pelayanan. Kalau kita bertanya: apakah itu pelayanan? Apakah maksud dari melayani? Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa: koor, bermain musik, berkotbah, itu adalah pelayanan. Apakah itu pelayanan? Seolah-olah tidak ada definisi yang cukup atau jitu. Mereka yang membersihkan meja dan menerima pendaftaran, apakah mereka melayani? Melayani! Jadi melayani berlaku di segala bidang. Orang reformasi berkata: orang suci dan orang biasa, semua orang adalah sama, merupakan imam. Semua orang melayani, bukan saja pastor - semua orang melayani. Seorang berkata ketika dia menyapu: Tuhan bersihkan hatiku seperti aku membersihkan lantai ini; waktu aku mencuci tangan, aku berdoa: Tuhan bersihkan hatiku seperti air ini membersihkan tanganku; waktu aku melayani dalam segala bidang, aku mengetahui bahwa aku bisa melakukan segala hal dengan jiwa pelayanan kepada Tuhan. 

Paulus memberikan satu ayat yang menurut saya di dalamnya berisi prinsip pelayanan yaitu: "Tidak peduli aku hidup atau mati, aku akan senantiasa membiarkan Yesus dibesarkan dalam diriku". Inilah prinsip pelayanan. Tidak perduli aku mati atau hidup, pokoknya setiap saat, senantiasa Kristus dibesarkan dalam hidupku. Itu adalah artinya pelayanan. Amin! Seandainya kita pintar menyanyi, tetapi hati kita tidak membesarkan Tuhan, itu belum melayani. Kalau kita berkotbah dan itu bertujuan untuk memuliakan kita, itu berarti kita belum melayani. Pelayanan itu berarti: Kristus dibesarkan, Kristus diperlihatkan, Kristus dikenal, Kristus dipermuliakan, diagungkan melalui apa yang kita kerjakan. Melalui dagang yang bersih, adil dan mengikuti prinsip-prinsip Kristen. Itulah melayani. Melalui mengajar, kita mendidik orang menjadi orang yang berguna, mengajar dengan hati yang bersih. Orang akan melihat bahwa inilah orang yang benar-benar berniat mengubahkan masyarakat . Meskipun bukan di dalam gereja, itu tetap melayani. Begitu pula ketika kita menjadi pegawai pemerintah, kita benar-benar jujur, setia dan melakukan dengan tangan yang bersih.

Pelayanan bukan sekedar membagikan traktat, berkotbah atau melalui koor, tetapi pelayanan melalui segala bidang, asal melalui pelayanan itu Kristus dibesarkan dan dimuliakan. Maka janganlah terlalu menyembah atau mengkultuskan pendeta, dan janganlah menghina kaum awam yang sudah bekerja memuliakan Tuhan. Seorang ibu rumah tangga membesarkan seorang anak dengan takut akan Tuhan, sehingga si anak bisa menjadi orang yang dipakai Tuhan. Pelayanan dia tidak kalah dengan seorang pendeta. Kadang-kadang saya membandingkan hidup saya dengan hidup ibu saya. Ibu saya mempunyai tujuh anak laki-laki, lima di antaranya menjadi hamba Tuhan. Dari kerja keras, air mata, dan kasih sayangnya, anak-anak tergerak dan menyerahkan diri satu persatu. Saya kira prosentasi dari 7 (tujuh), 5 (lima) menjadi hamba Tuhan itu prosentasi yang besar.

Semua orang yang membesarkan Tuhan adalah melayani. Semua orang adalah imam. Jika seorang hamba Tuhan hanya berkotbah yang muluk-muluk saja, saya belum melihat dia melayani. Pelayanan berarti membesarkan Kristus melalui diri kita di dalam segala tindak tanduk, baik aku hidup maupun aku mati.

Bagaimanakah seseorang bisa memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari seperti itu? Salah satu hal yang paling penting adalah dengan hidup suci. Hidup suci adalah suatu hal yang tidak bisa ditiru oleh setan. Setan bisa meniru karunia lidah, menjadi malaikat terang dll., tetapi setan tidak mampu hidup yang suci. The only thing cannot be limited. Hidup suci adalah suatu hal yang tidak mungkin dipalsu. Suci adalah suci, ia itu bersih. Alkitab mengatak Firman Tuhan adalah Firman Tuhan yang suci, bersih, seperti perak yang diuji tujuh kali. Perak diuji dengan api yang panas sekali. Perak menjadi cair, dan kotoran-kotorannya terpisah - perak itu menjadi lebih murni. Setelah kotoran itu dibuang, perak itu dibakar lagi, kotoran-kotoran yang kecil timbul kembali, dan akhirnya dibuang. Begitulah perak itu diuji sebanyak tujuh kali. Bagaimana kita bisa tahu bahwa perak itu betul-betul sudah bersih? Caranya adalah dengan melihat permukaan perak itu. Jika bisa merefleksikan wajah orang yang berkaca pada perak itu - refleksi itu harus jelas sekali - berarti perak itu sudah suci, sudah sempurna. Tuhan melihat kita suci, kalau peta dan gambar Allah berada pada diri kita, terlihat oleh Tuhan. Kalau Dia belum melihat itu, maka kita perlu diuji kembali. 

Saya mau bertanya, "Apakah yang direfleksikan oleh hidup kita?" Apakah mereka melihat keagungan, kemuliaan Tuhan yang besar itu dalam diri kita? Kalau mereka melihat, maka Tuhan puas terhadap pelayanan kita masing-masing. Seorang yang suci membawa Kristus dikenal di dunia. Seorang yang suci merefleksikan kemuliaan dan kebesaran Tuhan. Sehingga peta dan teladan pada diri kita, diterima oleh orang lain. Kitab Suci dalam semua agama berbeda. Tanah Suci itu bukan karena tanahnya berbeda dengan yang lain. Tanah Suci karena pernah dilewati oleh nabi-nabi dan hamba-hamba Tuhan. Karena di tanah itu pernah terjadi peristiwa-peristiwa suci. Tanah itu tidak lebih bersih dari tanah yang lain. Tetapi konsep suci menurut Kristen Protestan berbeda dengan yang lain. Suci bukan berarti kita tanpa debu. Seorang yang baru tiga bulan menjadi seorang Kristen, senang sekali membaca Alkitab, sampai Alkitabnya itu menjadi kotor. Lalu seorang majelis memarahi orang tersebut dan mengatakan bahwa Alkitab majelis tersebut masih bersih seperti baru dari toko, padahal sudah 30 tahun. Kata majelis itu lagi, sesudah dari gereja, Alkitab itu langsung ditaruh di lemari. Orang itu bilang: Kitab Suciku makin kotor, tapi kelakukanku makin besih; Kitab Suciku makin lecek, hatiku makin lurus.

Suatu kali, Bob Jones berkotbah di sebuah universitas dan berkata: ketika seorang yang begitu bersih, rapi, melamar engkau janganlah diterima. Orang yang bersih, rapi itu mungkin tidak tahu bekerja. Tetapi jika seorang yang kotor karena habis bekerja melamar engkau, maka berdoalah baik-baik, karena mungkin orang inilah yang bisa menghidupkan engkau. Seorang yang bernama Rudolf Otto, setelah meninggalkan negaranya dan berkeliling ke negara-negara lain, ia melihat ada perbedaan-perbedaan. 
Dia berkata yang disebut suci bisa dibilang ada 3 (tiga) hal:
1. The sense of greatness. Konsep akan keagungan dan kebesaran yang menjadikan diri kecil. Itulah sebabnya banyak kuil itu besar-besar, supaya pengikutnya merasa kecil. Ini the sense of greatness.
2. Sense of mystery. Suatu kerahasiaan, sehingga kita menjadi makin tidak mengerti dan menjadi takut. Agama Kristen mempunyai kelas katekisasi, karena selalu ada pengajaran-pengajaran untuk memperjelas Kitab Suci, karena Paulus mengatakan: aku tahu siapa yang kupercaya. Maka kotbah menjadi suatu yang panjang, karena membuat orang lain mengerti tentang ajaran Kristen. Agama lain menyatakan kekudusan dengan cara yang lain. Orang Kristen, makin beriman makin mengerti kebenaran: mengerti apa yang dipercaya, dan percaya pada hal-hal yang tidak dimengerti. Itu adalah dua hal yang berbeda. 
3. Sense of auwfullness. Perasaan yang menakutkan mengakibatkan terjadi pemujaan. Seperti agama-agama animisme yang memuja suatu hal yang luar biasa yang merusak, misal Hindu memuja Syiwa.

Apakah ketiga hal ini yang dituntut oleh Alkitab di dalam kekudusan? TIDAK! Allah bukan sesuatu yang jauh, yang kita tidak tahu. Allah adalah Allah yang turun, yang hidup bersama dengan para murid, sehingga Yohanes berkata: hal-hal yang kami lihat, yang kami raba, yang bersama kami, itulah Firman yang kami beritakan. Kata lihat di sini bukan berarti sekedar melihat biasa, tapi lihat yang berarti: yang meneliti dan terus memperhatikan. Di dalam bahasa Inggris itu adalah gaze, yaitu meneliti dengan melihat, dengan mata sendiri, dengan tangan sendiri. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tersembunyi, yang jauh, misterius. Bukan pula Tuhan yang tidak bisa dimengerti. Tuhan kita adalah Tuhan, yang meskipun tidak terbatas, tapi rela membatas diri dan turun ke dunia. Konsep kesucian dalam kekristenan yang kita terima adalah suatu kesucian yang kongkrit, yang mewujud dan perlu kita teladani, yaitu hidup seperti Yesus. 

Mari kita memfokuskan, mengkonsentrasikan pengertian kita tentang kesucian di dalam diri Kristus yang hidup di dalam dunia mewakili Allah, yang hidupnya dalam dunia menyatakan sumber dimana kita bisa meneladani Dia; Hidup suci dengan kesucian yang tidak ada bandingannya. Waktu Yesus di dunia, Dia menolak dosa yang paling kecil sekalipun. Tidak ada cacat yang ditemukan dalam diri-Nya, tidak ada kalimat yang tidak benar, tidak ada pikiran yang tidak beres, karena dalam keseluruhan-Nya menyatakan kesucian. Jikalau setan disebut si jahat, maka Yesus di sebut the Holy One of God. Jadi seluruh hidup-Nya adalah hidup yang suci, dari pikiran, emosi sampai kelakuan, kehendak Dia, seluruhnya adalah hidup yang suci. The Holy One. Malaikat Gabriel berkata kepada Maria: yang akan kau lahirkan namanya adalah yang Kudus dari Allah. Dia adalah Anak Allah yang Maha Tinggi, nama-Nya Yesus. Dia akan menyelamatkan umat-Nya keluar dari dosa, karena Dia adalah yang kudus itu. Sebelum Stefanus mati dirajam, kalimat terakhirnya adalah: yang kudus, yang adil itu telah datang, tetapi kalian telah membunuh Dia. 

Yesus adalah Yang Kudus. Itulah sebabnya Yesus berani mengatakan kalimat-kalimat yang merupakan tantangan moral yang teragung di sepanjang sejarah, di hadapan musuhnya dan di hadapan murid-murid. Yesus mengatakan, "Siapakah di antara kamu yang bisa menunjukkan dosa-Ku?" Ketika saya membaca kalimat semacam ini, saya takut luar biasa, karena ini adalah suatu tantangan yang tidak pernah dikatakan atau dipakai oleh siapapun di sepanjang sejarah. Orang orang yang paling saleh sepanjang sejarah, seperti: Confusius, Socrates, Ayub, Musa, Abraham, Sachhiomonez, Lao Tze dan termasuk orang seperti Mohammad, tidak pernah ada yang berani mengatakan kalimat itu: "Siapa di antara kamu yang dapat/bisa/mungkin menunjukkan dosaku?" Jika kita mau mencari kesalahan dari Abraham; banyak! Ia banyak bohongnya. Ketika istrinya yang cantik mau diambil orang, dia berkata bahwa perempuan itu adiknya. Pendiri-pendiri agama lain tidak ada yang tidak punya kesalahan. Misalnya, Confusius mengatakan: Kalau ada 5-10 tahun umurku ditambah, aku akan mempelajari buku tentang perubahan (The Book of Changes), dan aku akan menghindarkan diri dari kesalahan yang besar". Jadi pendiri-pendiri agama pun menyadari bahwa mereka tidak mungkin hidup tanpa kesalahan dan dosa. Ayub sendiri mengatakan bahwa: 'Kesalahanku lebih tinggi melampaui kepalaku', berarti ia tenggelam di dalam dosa. Mohammad pada detik terakhir minta didoakan. Namun Yesus pada akhir hidup-Nya malah berkata: "Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan". 

Tantangan dari kalimat Yesus: 'Siapakah di antara kamu yang bisa menunjukkan dosa-Ku' ditujukan kepada 2 (dua) jenis orang. Yang pertama kepada musuh-musuh yang sedang mencari kesalahan. Musuh dengan mudah pasti menemukan kesalahan kita, karena dia memang bermusuhan dengan kita. Keahlian musuh adalah mencari kesalahan. Pada waktu saya masih muda, ada orang yang kalau mendengar kotbah pendeta, yang dicari adalah kelemahan-kelemahan kotbahnya. Orang ini IQ-nya memang tinggi, tetapi sifat jahatnya juga tinggi. Satu kali dia berkata, "You perhatikan ya ..., pendeta ini kalau kotbah suka berkata nggg ... nggg ... ehhh ... ehhh ...; Dalam satu kali kotbah, pendeta itu bisa 128 kali mengucapkan itu." Orang ini memang ahlinya mencari kesalahan. Yang kedua ditujukan kepada orang yang akan dengan mudah menemukan kesalahan kita, karena dari pagi sampai malam bersama-sama dengan kita. Kalau kita mau pergi ke sekolah, kantor atau yang lain, kita rapi, tetapi setelah sampai di rumah, tidak karu-karuan. Di hadapan 2 (dua) macam orang ini, Yesus mengatakan kalimat, "Siapakah yang bisa mencari kesalahan-Ku?" Ini adalah tantangan moral tertinggi di sepanjang sejarah, tidak mungkin muncul dari mulut orang lain, hanya dari The Holy One, yaitu Yesus Kristus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Puji Tuhan! Kalau kita memiliki Tuhan seperti itu, dan Dia menyatakan kesucian dalam hidup konkrit, hidup yang berwujud, hidup yang menjadi contoh bagi kita, maka biarlah kita juga melayani Dia di dalam hidup kita yang suci.

Mari kita sekarang menguraikan apa artinya konsep kesucian dari Kitab Suci: 
1. Suci berarti diasingkan oleh Tuhan, dipisahkan dari yang najis. Tuhan memisahkan, Tuhan mengasingkan sekelompok orang. Istilah 'ekklesia' berarti: yang dipanggil keluar. Seperti orang Israel dipanggil keluar dari tanah Mesir, demikian juga orang Kristen dipanggil keluar dari dosa-dosanya. Yang disebut suci, bukan karena kelakuan kita suci, tapi karena pertama-tama kedudukan/status kesucian, karena Tuhan memanggil kita keluar dari status dosa. Kita memang secara status memang bukan milik dunia, kita punya status yang berbeda, yaitu status yang dipanggil keluar dari dosa, sehingga kita disebut orang suci. Bukan karena kita suci, baru kita dikeluarkan, tapi kita dikeluarkan untuk dijadikan suci. Ini adalah anugerah - Sola Gracia. 
Pada buku tafsiran Yohanes, Leon Morris mengatakan pada footnote-nya dari pasal 6: Alkitab tidak memberikan tempat bagi jasa manusia dalam mendapatkan keselamatan. Berarti seluruh Kitab Suci menyatakan: tidak mungkin manusia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi bukan karena inisiatif ataupun kemampuan diri kita, tetapi semata-mata karena anugerah Allah saja, kita dipanggil keluar. Itu namanya exodus, ekklesia - kelompok yang dikuduskan, dikeluarkan dari mereka yang mati, sehingga kita tidak ikut binasa.
2. Kudus berarti adalah bagi Tuhan. We are separate and we are separated for the Lord - kita dikuduskan bagi Tuhan, kita dipisahkan, kita dikumpulkan dan diberi satu tujuan, yaitu hidup untuk Tuhan. Jikalau banyak orang hidup untuk uang, nama, dan kuasa, maka orang Kristen diasingkan dan dikeluarkan untuk hidup bagi Tuhan. Aku bekerja apapun, aku melayani apapun, semua untuk Tuhan. Sehingga tujuan ini menjadi jelas. 'Telos', suatu tujuan akhir yang jelas. Tujuan apakah yang ingin kita capai? Untuk apakah hidup itu? Untuk Tuhan.
Ini adalah status dan fungsi kesucian, yaitu hidup untuk Tuhan. Sebelum engkau mendapatkan panggilan yang suci dari Tuhan, engkau tidak mungkin mendapatkan tujuan setinggi itu. Engkau hidup untuk dirimu, untuk profit dirimu! Orang yang dipanggil oleh Tuhan, pada saat ia disuruh memilih, ia tidak akan memilih untung-rugi dirinya untuk membuat keputusan. Mati atau hidup pun untuk Tuhan. Ada pendeta-pendeta yang sewaktu terjadi kerusuhan, mereka cepat-cepat lari dari Indonesia, minta suaka politik di Amerika. Setelah Indonesia tenang, mereka ingin kembali lagi, tetapi majelis menolak. Yesus Kristus mengatakan ada sebagian orang yang disebut gembala, dan ada sebagian orang yang disebut pegawai gajian. Jika engkau hidup bukan untuk Tuhan dan gereja Tuhan, tetapi untuk diri sendiri, itu bukanlah hidup yang suci. Jadi suci dilihat dari panggilan Tuhan sebagai inisiator. Suci dilihat sebagai telos dan tujuan akhir hidup kita. 
3. Alkitab menggabungkan kesucian dengan kesatuan niat untuk menyenangkan Tuhan. Jangan sampai engkau tertipu oleh iblis, seperti Hawa di Taman Eden, sehingga kehilangan hati yang suci dan murni untuk Tuhan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan simpicity sebagai kemurnian. Simplicity of heart, yaitu jiwa kita hanya menuju pada satu arah, yaitu jiwa yang mau menyenangkan Tuhan. Itu yang disebut suci. Selain dapat dilihat dari perilaku luar, kita dapat pula melihat kesucian dari panggilan, tujuan dan arah hidup kita masing-masing - to live in order to please God - hidup untuk menyenangkan Tuhan. Inilah arahnya, ini niatnya, ini tekadnya. Tekad ini disebut tekad yang suci. Ini tercantum dalam 2 Korintus 11. Di situ dikatakan: 
'Permulaan aku mempunyai cemburu terhadapmu, sebagaimana Aku telah menjodohkan engkau dengan Kristus, jangan engkau menjadi cabang hati dengan yang lain". Seseorang yang sudah mempunyai suami, masih mau bersetubuh di atas tempat tidur orang lain, itu adalah pelacur. Seorang yang sudah bertunangan, matanya masih melihat kiri kanan, berarti orang itu tidak setia kepada ikatan janji untuk menikah. Paulus mengatakan: Hai orang Korintus, bukankah aku sudah menjodohkan engkau dengan Kristus? Jikalau aku sudah menjodohkan engkau dengan Kristus, mengapakah hatimu masih bercabang? Jangan-jangan engkau seperti Hawa di Taman Eden, diselewengkan oleh ular itu. Tuhan sudah memberikan larangan agar tidak memakan buah itu. Dan Hawa tahu bahwa dia diciptakan oleh Tuhan, Hawa tahu bahwa dia diperintah oleh Tuhan, dan Hawa harus hidup menyenangkan Tuhan. Tapi ular datang menggoda dan merayu Hawa untuk memakan buah. Ular berkata bahwa Tuhan tidak mau Hawa tahu apa yang Tuhan tahu. Tetapi ular tahu apa yang Tuhan ingin Hawa tidak tahu, maka ular beritahu pada Hawa supaya Hawa tahu. Ini semua mengenai epistemologi. Epistemologi yang kacau mulai dari Kejadian pasal 3. Lalu si Hawa berpikir: betul juga. Bagaimanakah membuat seseorang menjadi kacau balau? Lakukan saja sesuatu untuk membelokkan interpretasi dari motivasinya, langsung orang itu kacau. Allah bukannya tidak mau manusia tahu baik dan jahat, tetapi Allah mau manusia menunggu waktu-Nya dan mengetahui sesuatu sesuai dengan standar Tuhan, bukan standar setan. Bukannya tidak boleh mengetahui soal seks, misalnya, tetapi mengetahui dari siapa, menurut otoritas siapa, dan menurut prinsip yang benar dari siapa. Itu yang selalu tidak diketahui. Wahyu hanya berasal dari satu sumber, yaitu dari Tuhan Allah. Kalau masih ada sumber lain yang memalsukan dan yang akan melawan wahyu Tuhan, itu harus kita tolak, karena itu akan menyelewengkan jiwa kita. Paulus berkata pada orang Korintus: janganlah engkau diselewengkan, seperti Hawa diselewengkan oleh ular; Cemburuku adalah cemburu seperti Tuhan. Biarlah hati kita hanya tertuju pada satu arah, satu objek, satu sasaran. Itulah kudus. Hal ini dimengerti secara khusus oleh seorang Denmark, Soren Abby Kierkegard yang mengatakan: 'orang yang sehati, yaitu orang yang bersih hati'. 
Gereja memerlukan pemuda/i yang bagaimana? Dunia memerlukan pendeta-pendeta dan majelis yang bagaimana? Yaitu mereka yang jiwanya hanya untuk Tuhan yang hatinya tidak menyeleweng ke sana kemari.
4. Kesucian dimengerti dari sikap kepada Tuhan. Kesucian dimengerti dari ketakutan kepada Tuhan. Kesucian dimengerti dari pengertian akan sifat-Nya dan menjauhkan diri dari dosa. Ketiga prinsip ini digabungkan dan menjadi apa yang disebut 'bijaksana' dalam Perjanjian Lama. The principal of wisdom in the Old Testament consist of three things: the fear of the Lord, to know his holyness, depart from sin.
Suatu bangsa akan berbahagia bila memiliki pemimpin seperti itu. Belum lama ini, pada waktu Taiwan akan memilih presidennya, sebuah gereja prebisterian yang terbesar di sana mengumumkan, tidak boleh memilih calon yang lain, orang Kristen harus memilih si .... Pada waktu itu, seseorang bertanya kepada saya, yang sedang memimpin SPIK bertemakan tentang kedaulatan Allah, di Taiwan, "Saya harus memilih yang mana?" Saya menjawab kepada orang itu dengan prinsip: pilihlah orang yang takut akan Tuhan, pilihlah orang yang mencintai rakyat, pilihlah orang yang tangannya bersih, hidupnya bersih dari seks. Jika bangsa dan gereja memiliki pendeta, majelis, penatua, diaken, dan aktivis seperti ini, maka gereja dan bangsa itu adalah yang berbahagia. Jikalau sekolah-sekolah memiliki guru seperti ini, sekolah itu adalah berbahagia. 
Saudara-saudara, biarlah kita mengkoreksi diri, apakah kita orang yang takut akan Tuhan? Apakah kita orang yang takut melakukan segala sesuatu yang menyeleweng, karena kita takut kepada Tuhan? The fear of the Lord. Inilah harta benda dari gereja. Inilah suatu pusaka yang dimiliki oleh pelayan. Inilah suatu kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh setan. Kalau engkau orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, tidak mungkin engkau dilawan, tidak mungkin kita hidup sembarangan, dan kita tidak akan mudah untuk kompromi. Bangsa, gereja, dan persekutuan-persekutuan perlu pemimpin seperti ini. The fear of the Lord
Tentara-tentara memakai senjatanya dengan sembarangan membunuh orang yang berbeda agama dengan mereka. Pria-pria yang mempunyai kekuatan besar, sembarangan memperkosa wanita yang lemah. Presiden yang mencuri, korupsi, maka tidak mungkin akan menjadi berkat bagi orang banyak. Tetapi mereka pada suatu hari akan dihukum di hadapan pengadilan Tuhan.
Ini membuktikan kepada kita, bahwa dunia sudah kehilangan pemimpin-pemimpin yang jujur. Perasaan takut akan Tuhan, mengenal kesucian, dan menjauhkan diri dari dosa, inilah prinsip bijaksana itu. Kalau ke-3 prinsip ini ada padamu, maka engkau akan menjadi hamba Tuhan yang dipakai. Mintalah kepada Tuhan untuk memelihara perasaan takut pada-Nya pada diri setiap kita. Mintalah kepada Tuhan untuk memberi kekuatan kepada kita untuk mempelajari dan mengenal kesucian-Nya. Dan mintalah agar Tuhan mendidik aku untuk menjauhkan dan menolak berkompromi akan segala dosa. Dengan demikian kita akan hidup dalam kesucian. Bukan saja demikian, Alkitab berkata: kita perlu disucikan oleh darah Yesus Kristus, dan kesucian semacam ini hanya diberikan kepada orang yang berjalan di dalam terang, hidup di dalam terang. Itulah rahasia orang bisa disucikan oleh Tuhan. Saya akan menghargai dan menghormati semua rekan kerja yang hidup di dalam terang dan berjalan di dalam terang. Semua pendeta, majelis, guru Injil dan semua aktivis, harus saling menghormati orang-orang yang berjalan di dalam terang, dan hidup dalam terang. Allah kita adalah Allah yang terang, kita disebut anak-anak terang. Orang yang hidup di dalam terang, tidak ada perbedaan. Tidak membeda-bedakan suku, keadaan sosial, dll. Itu adalah kedagingan - 1 Yohanes 1:7. Kita bersama Tuhan bersekutu di dalam persekutuan vertikal dan bersama sesama bersekutu di dalam persekutuan horisontal. Ini membentuk suatu persekutuan salib. Kita mempunyai persekutuan di dalam terang, baik vertikal maupun horisontal, dan di sini darah Yesus membersihkan dan mencuci dosa kita. Mencuci secara terus-menerus, present continous tense. Ini berlangsung terus-menerus, sedang berlangsung, tidak selesai-selesai, terus menerus disucikan. Seperti mata yang terus-menerus berkedip membersihkan mata. Itu berarti present continous tense, otomatis suci, ketika kita tidak sadarpun, kita disucikan. Bagaimana bisa begini? Bisa, kalau kita hidup di dalam terang. Maukah Saudara? Saya mau menjadi pendeta yang hidup di dalam terang, terhadap rekan kerja, anggota, dan seluruh dunia. Stephen Tong berjanji mau hidup di dalam terang, karena dengan demikian kita menikmati hidup di dalam kesucian yang tidak ada habisnya. Amin.



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM

Dua Puluh Lima Desember

The Power Of Pentecost

Penolakan, Penyangkalan Dan Pengkhianatan

Kebangkitan Yesus Kristus

Iman Atau Tingkah Laku Agama?

Mendoakan Kitab Suci

Menyanyikan Kitab Suci

On Solitude

Hidup Sederhana Dan Sedekah

On Fasting

Ringkasan Khotbah Kkr Jakarta 2003

Confession

Church Leader Spiritual Formation

Mengetahui Kehendak Allah Dan Jaminan Bimbingan Tuhan

Akibat Dosa Dalam Berpacaran

Youth Culture Toward The 21st Century

Filsafat Pelayanan

Di Tepi Jurang

Pemuda Dan Krisis Zaman

KESAKSIAN
MUSIK LAGU
SHARING BUKU
PI
SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia