Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Selasa, 23 September 2014  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Keselamatan Hanya Di Dalam Kristus

Pdt. Amin Tjung, M. Div.

Ringkasan: Semua manusia sudah berdosa, akibat dosa mati secara jasmani, rohani dan ada hukuman kekal (kematian kedua), tidak ada jalan keselamatan, baik dari sains dan teknologi, baik dari agama dan kepercayaan, keselamatan hanya dari Allah di dalam Kristus.

Semua Manusia Sudah Berdosa
      Kita melihat hidup di dalam dunia yang sudah berdosa ada berbagai kesulitan, kesedihan, kesengsaraan dan kematian. Tidak ada manusia yang tidak pernah menghadapi kesulitan, tidak menangis. Semua manusia pernah menangis. Ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang sudah berdosa di hadapan Allah, sehingga dalam kehidupan banyak masalah dan kesulitan (Kej. 3:12-19). Memang kita melihat banyak masalah yang dapat diselesaikan dengan sains dan teknologi yang berkembang secara cepat. Misalnya dengan ditemukan listrik, maka kegelapan bisa diatasi. Tetapi ada yang tetap tidak bisa diatasi, yaitu adanya dosa. Dengan berkembangannya sains dan teknologi, dosa juga ikut berkembang. Misalnya kecepatan perkembangan komputer, dengan adanya internet dan cyberspace (dunia maya), membuat dunia begitu kecil. Tetapi tetap ada kejahatan melalui komputer, melalui internet dan cyberspace, misalnya ada pornografi. Dosa ada di mana-mana, karena memang semua orang di dunia sudah berdosa. Alkitab menyatakan kebenaran ini. Ini bukan hasil penyelidikan manusia, tetapi kebenaran dari Allah sendiri. Allah yang berfirman bahwa “karena semua manusia sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom. 3:23).

Pengertian Dosa
       Dosa pada dasarnya bukanlah suatu yang bersifat pasif, seperti: kelemahan, kesalahan atau ketidaksempurnaan. Tetapi dosa merupakan suatu permusuhan yang aktif terhadap Tuhan dan secara aktif melanggar hukum atau perintah Tuhan (1Yoh. 3:4), sehingga menyebabkan kesalahan, kelemahan. Dosa ini diakibatkan dari manusia sendiri dengan kebebasannya menolak untuk tunduk kepada Allah yang berotoritas dan menolak untuk mengikuti petunjuk atau perintah-Nya. Dengan kebebasan sendiri, manusia memilih petunjuk Iblis, sehingga manusia tidak setia kepada Tuhan, menyimpang dari jalan dan sasaran yang benar, melanggar hukum dan perjanjian dengan Allah. Pengertian ini dapat kita lihat dari Adam dan Hawa yang dengan kebebasannya secara aktif memilih untuk mengikuti apa yang mereka mau dan cocok dengan pendapat iblis, melawan Tuhan yang berotoritas yang seharusnya mereka percayai dan sandari sepenuhnya (Kej. 2-3).

Kematian adalah Akibat Dosa
       Upah dosa ialah maut (Rom. 6:23). Maut atau kematian adalah akibat atau upah dari dosa. Manusia yang berdosa ini dikatakan telah mati. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Ef. 2:1). Kalau kita memperhatikan Efesus 2:1, dikatakan bahwa kondisi manusia yang menerima surat itu dulu sudah mati, padahal mereka yang dulu sudah mati itu dikirimi surat oleh Rasul Paulus. Ini berarti mereka masih hidup secara fisik. Hal ini membuat kita memperhatikan arti mati di sini bukan mati tubuh atau fisik. Alkitab mengajarkan tiga (3) macam kematian, yaitu: kematian tubuh atau fisik, kematian rohani dan kematian kedua - perpisahan kekal atau penghukuman selama-lamanya.

Kematian Tubuh
       Tuhan sudah berkata: “Janganlah kau makan buah itu, sebab pada hari engkau memakannya, engkau pasti mati” (Kej. 2:17). Tatkala mereka melanggar firman Tuhan, tatkala mereka memakan buah yang dilarang untuk dimakan itu, mereka berdosa. Alkitab mengatakan mereka pasti mati. Tetapi apakah mereka mati secara fisik, secara langsung? Tidak. Adam dan Hawa tidak langsung mati secara fisik. Tetapi Alkitab mengatakan, di dalam Kejadian 5, bahwa Adam, setelah berumur 930 tahun, lalu ia mati; Set berumur 912 tahun, lalu ia mati; Keturunan Adam yang paling panjang umurnya, Metusalah, berumur 969 tahun dan mati. Mati, mati, mati. 
       Saudara, hal makan buah dan kemudian mati itu seperti bagaimana? Seorang filsuf yang bernama Sokrates1 , tatkala dia harus meminum cawan yang berisi racun, sebelum dia minum, dia bertanya apa yang akan terjadi, bagaimana proses racun itu bekerja? Racun itu bekerja dari kaki dan menjalar sampai ke jantung dan mati. Setelah minum, ia tidak langsung mati, bahkan sempat meminta teman-temannya yang hadir menyaksikan dan menangis itu untuk diam, jangan menangis. Ia kemudian jalan mondar-mandir, dan tatkala kakinya sudah mulai berat, dan tidak terasa ketika dicubit, ia mulai duduk dan berbaring. Tidak lama kemudian racun menuju jantung, dan akhirnya Socrates mati. Waktu Sokrates meminum racun itu, apakah dia langsung mati? Tidak. Tetapi dia berada di dalam proses menuju kematian. Dia sedang dying, sekarat, dalam proses kematian. Tatkala Adam dan Hawa memakan buah dari pohon itu, apakah mereka langsung mati? Tidak. Mereka berada dalam proses menuju kematian. Jadi mati adalah upah dosa, meskipun kematian fisik itu tidak langsung, tetapi dalam proses. 
       Ada pandangan dari ilmu pengetahuan yang mengatakan tidak demikian. Bahkan ada teori yang berkata manusia memang diciptakan fana, harus mati. Sebagaimana proses alam pada makhluk hidup yang lain, hewan dan tumbuh-tumbuhan, dari kecil, tumbuh menjadi besar, semakin tua, dan akhirnya mati; maka kematian manusia pun merupakan proses alam. Ini adalah hasil pengamatan manusia yang terbatas. Auguste Comte (1798-1857) , seorang filsuf positivis Perancis, yang sangat menekankan ilmu positif atau sains dan metode ilmiah, menyatakan bahwa paham positivisme yang menekankan sains itu tidak memadai karena tidak bisa memberikan kenyataan secara keseluruhan, sebab: pertama. kita sebagai manusia tidak mungkin mengetahui segala sesuatu. Yang diketahui manusia hanyalah yang diamati dan diteliti di sekitar kita. Kedua, selain itu yang kita amati hanyalah fenomena, gejala yang bisa berubah-ubah, bukan hakikat realitas yang sebenarnya. 
       Jadi pengetahuan manusia itu terbatas, relatif, dapat berubah dan dapat salah. Namun Allah, Sang Pencipta, yang mengetahui segala sesuatu dengan sempurna, menyampaikan kebenaran melalui Alkitab, Firman-Nya. Alkitab tidak memberitahukan dan tidak mengajarkan bahwa kematian itu natural, tetapi Alkitab memberitahukan dan mengajarkan bahwa manusia mati karena upah dari dosa. Allah menciptakan manusia berbeda dengan menciptakan binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta dan isinya. Yang lain hanya diciptakan berdasarkan Firman-Nya dan menurut jenisnya saja, tetapi manusia diciptakan menurut gambar dan rupa dari Allah Tritunggal, oleh sebab itu tidak mungkin membawa benih kehancuran dan kematian. Jadi manusia secara natural tidak akan mati, tetapi kematian adalah akibat dosa. Selain itu, kematian bukanlah suatu hal yang natural, apalagi menyenangkan, tetapi hal yang menakutkan dan menggentarkan, karena ini adalah hukuman, penghakiman dan kutukan dari Allah atas dosa manusia (Rom. 1:32; 5:16; Gal. 3:13). Manusia tidak seharusnya mati. Manusia mati akibat pelanggarannya terhadap perintah Tuhan. Tatkala manusia melanggar perintah Tuhan, memang tidak langsung mati; ini akibat dari anugerah umum-Nya. Selain itu, tidak semua manusia mati. Ada yang tidak mati, tetapi diangkat ke surga, seperti Henokh (Kej.  5:24) dan Elia (2Raj. 2:11). Ketika Tuhan Yesus datang kembali, yang belum mati tidak akan mati, tetapi akan diangkat untuk menyongsong Tuhan (1Tes. 4:17). Jadi pengamatan manusia yang mengatakan kematian itu natural adalah salah, karena hal itu tidak sesuai dengan Firman Allah. Tetapi jelas Alkitab menyatakan bahwa kematian fisik terjadi akibat dosa, meskipun tidak langsung mati atau mungkin tidak mati kalau dikehendaki Allah, atau Tuhan Yesus datang kembali.

Kematian Rohani
      Kematian yang pasti langsung terjadi setelah Adam dan Hawa berbuat dosa adalah kematian rohani. Ini yang dikatakan Kitab Kolose: ‘Kamu dahulu mati karena pelanggaran’ (Kol. 2:13, bandingkan Ef. 2:1). Apakah jemaat di Kolose dulu mati secara fisik? Tidak, tetapi mereka mati dalam pengertian secara rohani. Apa artinya mati secara rohani? Artinya adalah putus atau terlepas hubungannya dengan Tuhan. Sebelumnya Adam datang kepada Tuhan, bersekutu dengan Tuhan. Hal itu begitu indah. Tatkala itu Tuhan berfirman kepada dia untuk memelihara, membudidayakan Taman Eden. Adam mampu menjalankannya. Adam memberikan nama kepada semua binatang yang dibawa kepadanya. Tetapi tatkala Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, segala sesuatu berubah. Ketika Tuhan datang kepada mereka, mereka bersembunyi. Mereka mulai menutup dirinya. Mengapa? Saat itu bagi mereka, Allah bukan lagi Allah yang mengasihi dan mereka ingin bersekutu dengan-Nya. Pengalaman yang indah sebelumnya berubah sama sekali. Saat itu karena melanggar perintah Tuhan, Allah dilihat sebagai hakim yang akan menghakimi, sehingga mereka bersembunyi dan melarikan diri dari Allah. Manusia putus hubungan dengan Allah. Manusia mati secara rohani. Alkitab mengatakan dengan jelas manusia bukan mencari Allah, tidak ada seorang pun yang mencari Allah (Rom. 3:10-12). Manusia melarikan diri dari Allah. Tatkala Allah mencari manusia, manusia bersembunyi, lari dari hadapan-Nya (Kej. 3:9-10). Tetapi karena ada seed of religious, ada benih religiositas, ada benih agama, manusia harus mencari. Dan manusia mencoba beribadah pada ’allah’ yang sesuai dengan keinginannya. Allah yang benarlah yang mencari manusia. Yang dicari oleh manusia bukanlah Allah yang benar, karena manusia terbatas, tidak mungkin mengenal Allah yang benar. 
       Orang yang berdagang misalnya, mungkin dia menyembah ’ilah’ tertentu. Perempuan atau orang tertentu, menyembah ’ilah’ yang lain lagi. Mereka yang membuka bilyar atau tempat prostitusi atau tempat perjudian, mereka cenderung menyembah ’ilah’ yang berbeda pula. Petani juga mempunyai ’ilah’ lain... Saudara lihat, itu sesuai dengan kemauan masing-masing. Itu adalah satu pencarian manusia dalam mencari “allah”. Ludwig A. Feuerbach (1804-1872) berkata bahwa teologi itu sebenarnya antropologi. Theologi itu, ketuhanan itu, sebenarnya refleksi dari manusia. ’Allah’ itu manusia. Maksudnya bagaimana? Saya sebagai pribadi itu terbatas, misalnya tidak bisa memenuhi segala sesuatu sendiri, tetapi ada manusia lain yang bercocok-tanam, menjadi nelayan, membangun rumah, membuka bank dan sebagainya. Maka saya memang terbatas, tetapi manusia tidak terbatas. Tetapi melalui agama manusia berkata: manusia itu terbatas, tetapi Allah tak terbatas. Manusia ingin banyak tahu dan ingin menjadi mahatahu, tetapi tidak bisa, maka ada Allah yang Mahatahu. Manusia hadir, mencoba dengan pesawat, terbang cepat ke mana-mana. Mungkin pagi hari dia bisa di Jakarta, berangkat, mampir sebentar di Hong Kong untuk sarapan pagi, bekerja sebentar, lalu sore ke Beijing, tidur di sana. Dalam sekejap mata dia seperti mahahadir. Dia ingin hadir di mana-mana tetapi tidak bisa. Bagi Feuerbach, manusia menciptakan Allah menurut gambar dan rupa manusia. Dia membalik kebenaran dari Kejadian 1:26-27. Ini ada benarnya untuk agama ciptaan manusia. Tetapi salah dan tidak sesuai sama sekali dengan Alkitab. Agama yang sejati adalah Allah yang menciptakan manusia, dan manusia harus beribadah kepada-Nya. Allahlah yang mencari manusia, bukan manusia yang mencari Allah. Roma 1:25 mengatakan: manusia itu mengganti Allah yang seharusnya disembah selama-lamanya dengan creature, makhluk ciptaan . Manusia cenderung melarikan diri dari Allah. Manusia putus hubungan dengan Allah. Manusia tidak suka kepada Allah, tidak bersekutu dengan Allah, tidak mengenal Allah, kebenaran, kehendak, dan perasaan Allah. Manusia secara rohani dikatakan mati.

Kematian Kedua
       Pemisahan kekal dari Allah disebut Alkitab sebagai kematian yang kedua (Why. 2:11; 20:6, 14; 21:8). Itu adalah kematian yang menakutkan, penghukuman di neraka selama-lamanya. Perhatikan orang yang di neraka itu berkata, “Aku meminta kepadamu, Bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” (Luk. 16:27-28). Tidak ada orang di neraka yang bisa tolong-menolong, tidak ada yang bisa saling menemani dan saling menghiburkan. Alkitab mengatakan, di situ hanya ada: kesakitan, penderitaan, ratapan dan kertak gigi, tanpa penghiburan sama sekali selama-lamanya (Luk.  16:24, 28; Mat. 25:30). Hukuman Allah itu bersifat permanen. 
       Orang boleh saja berkata bahwa mati itu selesai. Tetapi itu tidak bisa. Mereka tahu sesudah mati, itu belum selesai. Manusia harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Alkitab menyatakan bahwa manusia ditetapkan mati satu kali, setelah itu dihakimi (Ibr.  9:27). Jadi setelah mati, ada penghakiman dari Allah. 
       Setiap manusia telah berdosa kepada Allah. Allah adalah Allah yang Mahabesar, sehingga setiap kita melanggar perintah-Nya, itu adalah dosa yang besar. Jadi dosa itu bukanlah dosa yang kecil, tetapi dosa besar dan layak masuk neraka. Selain itu, Allah adalah Allah yang adil, sehingga akan mengadili dengan adil, dan tidak mungkin bisa disuap. Allah juga adalah Allah yang Mahahadir dan Allah yang Mahatahu, jadi tidak mungkin manusia dapat bersembunyi dan berdebat. Disamping itu, ada yang sering disalahmengertikan, Allah adalah Allah yang kekal. Apa artinya kekal? Kekal artinya melampaui waktu, tidak di dalam waktu. Allah yang kekal adalah Allah yang tidak berubah. Kita ada di dalam waktu. Kita hanya bisa berpikir dalam waktu, sehingga kita sering mengucapkan kata ’selama-lamanya’. Selama-lamanya itu ada lamanya, tetapi selama-lamanya itu ada di dalam waktu. Di dalam waktu, kita mengalami perubahan. Dulu saya gemuk, sekarang saya kurus. Dulu saya kecil, sekarang saya sudah dewasa. Dalam waktu seminggu, entah berapa banyak sel tubuh kita yang berubah. Ada perubahan, karena kita berada di dalam waktu. Tetapi Allah adalah Allah yang kekal, tidak berada di dalam waktu. Maka tatkala manusia dihukum, maka hukumannya bersifat kekal, bersifat permanen. Dunia seringkali menjadikan hal yang menakutkan ini sebagai bahan guyonan supaya tidak terlihat menakutkan; Ini tipuan iblis. Tetapi Allah memberitahukan kita melalui Alkitab, bahwa hukuman itu bersifat kekal, kematian kedua itulah hukuman selama-lamanya. 
       Memang ada orang yang percaya akan adanya kelahiran kembali setelah kematian, lahir kembali menjadi apa yang sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Hukuman dianggap hanya sementara, masih ada kesempatan sampai dia mencapai kebebasan mutlak atau ketiadaan segala sesuatu. Ada agama yang berpandangan mirip demikian. Manusia bersalah, karenanya harus menjalani hukuman 1.000, 2.000 tahun, barulah akhirnya ke surga. Hukuman itu mungkin dikurangi masanya apabila orang tersebut menjalankan ibadah-ibadah tertentu, menjalankan perintah agamanya, akhirnya ia bisa mencapai surga. Kedua pandangan ini salah, karena tidak konsisten dengan pandangan bahwa Allah itu kekal, dan hukuman Allah itu kekal, permanen, tidak berubah.

Jalan Keluar Sains dan Teknologi
      Semua takut terhadap kematian, tetapi yang menjadi masalah adalah setelah mati tidak selesai, ada penghukuman kekal. Kalau begitu, bagaimana manusia melepaskan diri, bagaimana manusia lolos dari penghukuman kekal itu? Di jaman modern menuju postmodern ini, mereka mengatakan bahwa jalan keluarnya adalah sains dan teknologi. Dulu manusia sakit kusta dianggap karena dikutuk, ternyata sekarang bisa diobati. Dulu orang bisa salah-mengerti tentang tata surya dan menyatakan geosentris, bumi menjadi pusat. Tetapi terjadi perubahan setelah Kopernikus, Galileo Galilei dan Johannes Kepler membuktikan heliosentris, bahwa mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Selain itu, ada kemajuan dalam sains, misalnya melalui Isaac Newton, karena melalui penjelasan fisika orang dapat melihat alam semesta dengan jelas, dapat mengerti, misalnya mengapa benda yang dilempar ke atas tidak melayang, tetapi jatuh lagi, yaitu karena ada gravitasi. Segala sesuatu mulai bisa dihitung. Apabila kita naik pesawat, bisa ditentukan akan tiba di tujuan pukul berapa. Semua karena kemajuan teknologi. 
       Ada seorang periset yang mengatakan bahwa 5-10 tahun lagi, orang yang sakit kanker tidak perlu lagi menjalani kemoterapi atau radiasi. Saat ini sedang dikembangkan pengobatan-pengobatan baru yang lebih baik. Ada pengharapan bagi manusia. Manusia menjadikan dirinya sebagai jawaban bagi permasalahnya. Apakah kemajuan sains memberikan jawaban? Ternyata tidak. Meskipun membantu kemajuan atau kenikmatan hidup, tetapi dengan kemajuan sains manusia semakin berbuat dosa dengan cara yang canggih dan hebat. Kemajuan teknologi membuat pembunuhan terjadi secara lebih luar biasa, kekejamannya pun lebih luar biasa. Sains dan teknologi tidak memberikan jalan keluar untuk mengatasi dosa. Sains tidak bisa mengatasi masalah kematian fisik. Sains dan teknologi juga tidak bisa menjangkau hal setelah kematian. Sains dan teknologi tidak memberikan jalan keluar.

Jalan Keluar dari Agama atau Kepercayaan
       Bagaimana agama atau kepercayaan memberikan jawaban atas hal ini? Agama-agama nonsamawi atau nonwahyu tidak memberikan jawaban yang jelas. Agama-agama tertentu mencoba menentukan jalan mereka melalui pencerahan yang mereka dapat. Mereka memberikan jalan keluar dengan kelahiran kembali - ada terus kesempatan. Padahal ini bertentangan dengan konsep bahwa Allah itu kekal dan hukuman-Nya adalah kekal pula. Selain itu, kita melihat bahwa semua itu adalah cara manusia untuk mendapatkan keselamatan, bukan cara Allah. Sesungguhnya manusia bersalah kepada Allah, jadi bukan manusia yang menentukan pengampunan, melainkan Allah.
       Agama lain yang digolongkan sebagai agama samawi atau agama wahyu  menetapkan pelaksanaan syariat tertentu dengan menjalankan amal ibadah mereka (sembahyang, puasa, zakat) sebagai jawaban. Tetapi sesungguhnya, sembahyang apa yang tidak ada cacatnya, perbuatan baik apa yang tidak ada cacatnya? Seperti pohon ara buahnya ara, pohon apel buahnya apel, pohon semangka buahnya semangka, maka pohon dosa pun buahnya dosa. Manusia adalah makhluk yang berdosa, yang mati. Manusia tidak mungkin melakukan yang baik, hanya dosa, sehingga tidak bisa membayar di hadapan Allah. Kita terus berhutang kepada Allah, maka kita harus dihukum kekal. 

Jalan Keluar dari Allah
       Allah sendiri yang memberikan jalan keluar atas dosa dan kematian, yaitu dengan sistem penggantian atau substitusi. Setelah manusia berdosa, dijalankan sistem penggantian. Setelah Adam berdosa di hadapan Allah, Allah menentukan sistem penggantian dengan darah yang dicucurkan, binatang yang mati dibunuh. Pertama binatang yang dibunuh untuk pakaian Adam dan Hawa, kemudian ada korban Habel yang diterima. Ada sistem penggantian. Tetapi sistem korban orang Israel tidak mencapai puncaknya, hanya merupakan satu simbol atau bayang-bayang yang akan datang. Kalau kita bandingkan dengan Ibrani 10:1-5, binatang tidak mungkin mengganti manusia karena ada perbedaan kualitas. Yang bisa menggantikan manusia haruslah manusia juga. Maka dikatakan, tidak ada cara lain, Allah Bapa menentukan Tuhan Yesus Kristus menjadi jalan pendamaian, yakni harus mati menebus dosa, harus mati untuk membayar hutang dosa dengan memakukan surat dakwaan, surat hutang itu di kayu salib (Rom. 3:25; Kol. 2:14-15). Itu cara yang Allah tentukan, dan hanya satu cara itu. Manusia bersalah kepada Allah, harus Allah yang menentukan cara pengampunan, dan cara pengampunan itu adalah melalui kematian Kristus Yesus di kayu salib - yang menggantikan.
       Apakah itu adil? Bukankah Allah adalah Allah yang adil, yang salah yang dihukum, yang tidak bersalah dibebaskan? Mengapa Kristus yang tidak bersalah dihukum, dijadikan berdosa, dan kita yang bersalah di dalam Dia dibenarkan? Kalau demikian, apakah ada keadilan Allah? Ada. Yang salah tetap dihukum, tetapi Allah menggunakan sistem substitusi atau sistem penggantian. Dan sistem penggantian adalah satu-satunya cara yang Allah tentukan. Kalau begitu, apakah Kristus Yesus dipaksa? Tidak. Dia rela. Dia mau. “Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu, Aku datang untuk memberikan nyawa-Ku bagi tebusan untuk banyak orang.” (Ibr. 10:7; Mat. 20:28). Dia tahu apa yang dilakukan-Nya. Ia jalankan itu di dalam kerelaan, jadi tidak ada pemaksaan.
       Apakah satu orang bisa menggantikan seluruh dunia? Ya, karena beda secara kualitas. Tuhan Yesus adalah manusia sejati dan Allah yang sejati. Manusia tidak bisa menjadi Allah, tetapi Allah bisa menjelma menjadi manusia. Kita percaya Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, untuk membayar harga, menebus kita, membeli kita ulang. Apa pantas? Ya, karena Dia Allah, kualitasnya lain. Di Indonesia misalnya, beras bisa ditukar dengan pesawat terbang. Di sini kita bicara tentang kualitas. Satu pesawat terbang bisa ditukar menjadi butiran beras yang tak terhitung. Kristus adalah Allah yang sejati, maka Dia bisa menggantikan semua manusia yang berdosa. Hal ini Dia lakukan melalui kematian-Nya di kayu salib. Sesungguhnya penderitaan Kristus tidak dimulai di Taman Getsemani, tetapi tatkala Dia menjadi manusia. Dia lahir di kandang domba; Kristus sudah mulai menderita, sebab Ia adalah Allah yang tidak terbatas menjadi terbatas, Allah yang mulia menjadi hina. Seumur hidup-Nya, Dia dikatakan sebagai “the man of sorrow”, manusia yang menderita. Serigala punya lubang, burung punya sarang, tetapi Dia, Anak Manusia, tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Dia Pencipta alam semesta, tapi tatkala Dia datang pada alam ciptaan-Nya, dunia, bahkan umat pilihan-Nya, yaitu bangsa Israel menolak Dia (Yoh. 1:10-11). Dia mengalami sengsara, dan puncaknya adalah di kayu salib. Penderitaan-Nya bisa menggantikan. 
       Lukas mencatat bahwa pada malam Dia menyerahkan diri setelah berdoa di Taman Getsemani, keringat-Nya seperti titik-titik darah (Luk. 22:44). Ada dua tafsiran mengenai hal ini: bisa deras seperti darah, bisa juga berwarna seperti darah karena hermatidrosis - pembuluh darah di bawah kulit-Nya pecah karena ketegangan yang luar biasa. Saat itu, malam itu, Dia diadili, dipukul, diludahi, ditampar, ditendang, diolok-olok, dipermainkan, hingga sekujur tubuh-Nya babak-belur, dan kemudian juga disesah - dipukuli dengan cambuk sehingga sekujur tubuh-Nya penuh luka dan berdarah. Begitu buruk rupa-Nya, sehingga bukan seperti manusia lagi. Itu belum puncaknya, sampai Dia dipakukan di kayu salib di puncak Golgota. Dosa isi dunia ditanggungkan atas-Nya. Dia yang tidak berdosa dijadikan berdosa karena kerelaan-Nya, supaya kita dibenarkan (2Kor.  5:21). Yesus berseru dengan suara nyaring, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Kau tinggalkan Aku?” Kita tidak bisa mengerti mengapa Allah bisa meninggalkan Allah. Mengapa Allah dalam persekutuan yang kekal itu mengalami suatu perpisahan? Tetapi yang kita mengerti adalah melalui perpisahan itu, kita yang tadinya berpisah dari Allah, boleh dipersekutukan lagi di dalam Kristus.” Perpisahan itu menggambarkan penghakiman, penghukuman yang kekal. Kita memang seharusnya dihukum kekal, permanen. Tetapi Kristus menggantikan kita, supaya kita bisa dilepaskan dari penghukuman Allah. Murka Allah ditimpakan kepada Kristus untuk memuaskan hati Allah. 
       Alkitab mencatat dalam kata propisiasi, dalam Roma 3:25 tadi, Kristus ditentukan menjadi jalan pendamaian. Kata propisiasi berbeda dengan kata rekonsiliasi yang berarti pendamaian. Sering digambarkan bahwa antara Allah dan manusia ada suatu tembok yang tidak bisa ditembus, lalu tembok itu dirobohkan dengan salib Kristus; ini adalah rekonsiliasi. Penghalang yang membuat perpisahan dihilangkan, sehingga yang terpisah disatukan kembali. Tetapi propisiasi itu menggambarkan Allah yang murka. Murka-Nya tidak bisa dihentikan dan menuntut semua manusia dihukum selama-lamanya. Murka-Nya hanya bisa dihentikan oleh satu, korban yang memuaskan Dia. Hanya satu saja yang dapat memuaskan, yaitu Kristus, korban yang bisa menghentikan murka Allah sekaligus membuat Allah tidak lagi menghukum karena Dia puas. Kristus satu-satunya jalan, tidak ada yang lain. Melalui kematian di kayu salib, Dia merobek tirai pemisah. Dia menebus. Dia membayar hutang dosa kita. Kita yang terjual di bawah kuasa dosa, kita yang berhutang di hadapan Allah, Kristus membeli kita ulang dengan membayarkan diri-Nya sebagai pengganti. Dialah yang memberikan kita hidup, yang menjadikan kita hidup, memberi kita hidup yang kekal. Hidup yang kekal, bukanlah hidup selama-lamanya. Hidup yang kekal adalah hidup yang digabungkan dengan Allah kembali, bersekutu atau berelasi dengan Allah, union with Christ, disatukan dengan Kristus. Dan ini tidak bisa dipisahkan. Kita bisa mati secara fisik, tetapi saat kita mati secara fisik, persekutuan ini tidak berakhir. Nanti dibangkitkan, tetap ada persekutuan dengan Allah. Maka Paulus berkata, “Aku yakin bahwa hidup maupun mati, pemerintah yang sekarang maupun yang akan datang, makhluk lain, atau kerajaan angkasa, tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” (Rom. 8:36-39). Satu kepastian keselamatan telah diberikan.

Bagaimana Kita Mengerti Penggantian Kristus
      Rekan pelayanan Ev. Billy Graham bernama Cliff Barrow memiliki 2 anak yang nakal, dan dia berkata akan memukul mereka jika melanggar apa yang dilarangnya. Saat dia pulang dari bepergian, ternyata anaknya melanggar. Cliff Barrow serba salah. Apabila dia tidak menghukum anaknya, maka mereka akan menganggap perkataannya hanya main-main, tetapi kalau dia sungguh memukul anaknya, anaknya bisa trauma dan mati. Jadi dia berkata kepada anak-anaknya, “Salah harus dihukum, tetapi Papa tahu kamu tidak akan sanggup menerima hukuman Papa, maka sekarang masing-masing pukul Papa 10 kali dengan kekuatanmu. Papa membayar kalian, Papa menggantikan kalian yang seharusnya dihukum.” Kedua anaknya terpaksa memukul papanya sambil menangis sedih. Setelah itu mereka berdoa. Mulai hari itu mereka mengerti kasih papanya yang menggantikan mereka, dan percaya kepada papanya, kepada kasih papanya yang menggantikan mereka. 
     Seorang pelukis membuat lukisan mengenai penderitaan Kristus. Tatkala pada hari Jumat Agung lukisan tersebut dipamerkan, seorang anak muda, Zinzendorf, menatapnya lama sekali dan membaca satu kalimat yang tertulis di bagian bawah lukisan tersebut: “Nyawa-Ku Kuberikan bagimu, apa kauberi pada-Ku?’ Anak muda itu terus merenungkan kata-kata tersebut, dan pada hari itu juga ia menyerahkan dirinya menjadi seorang misionaris, karena dia mengerti kasih Allah baginya.
      Apakah yang sudah kita mengerti tentang apa yang dikerjakan Tuhan Yesus? Apakah yang sudah kita berikan kepada Yesus, yang telah memberikan nyawa-Nya, menebus, mensubstitsikan kita? Harusnya kita yang menerima penderitaan, perpisahan, dan hukuman kekal dari Allah Bapa, tetapi Dia menggantikan kita. Apakah Saudara sudah menerima keselamatan dari-Nya? Apa yang kauberi kepada Dia? Apakah Saudara percaya dan mempercayakan diri kepada Dia sepenuhnya?
(el)

Diambil dari Majalah Momentum 51 - Tahun 2003



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU
SHARING BUKU
PI

Keselamatan Hanya Di Dalam Kristus

Penginjilan Pribadi, Apologet Justin Martir

Sharing Gospel With Biblical Imagery

Tak Terlupakan

I Will Make You Fishers Of Men

Seorang Setiap Hari

Setiap Orang Kristen Sebagi Saksi

Peserta Itu Mantan Pembunuh

Badut Sirkus

Kuasa & Kepenuhan Roh Kudus Dalam Penginjilan

SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia